Siang tadi ketika jarum jam menunjuk angka sebelas ketika kami tiba di sawah. Matahari sudah tinggi, cahayanya jatuh tegak diatas hamparan tanah yang mulai mengering setelah pagi berlalu. Udara sudah mulai terasa panas, tetapi langkah kecil orang disamping saya tetap lincah penuh rasa ingin tahu.
Ya, saya ditemani si kecil akan melakukan pemeriksaan ubinan palawija komoditas kacang tanah. Saya tidak hanya menjalankan tugas sebagai petugas pemeriksa ubinan BPS, tetapi juga mengajaknya mengenal alam dan pekerjaan secara langsung.
Pemeriksaan pendataan ubinan merupakan tahapan penting dalam kegiatan statstik pertanian yang dilakukan oleh BPS. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa data hasil pengukuran produksi tanaman pangan yang dikumpulkan di lapangan benar-benar akurat, lengkap dan sesuai prosedur.
Sebelum memulai pemanenan petak ubinan, saya melakukan pengecekan ukuran petak ubinan apakah sudah sesuai standar dan alat penimbang sudah dilakukan dengan alat yang layak. Saya menunjukkan kepada si kecil tanaman kacang yang tumbuh rendah itu lalu mengajarinya menggali perlahan. Tangannya yang mungil mulai kotor oleh tanah, namum wajahnya berseri saat umbi kacang tanah muncul, ia tertawa bahagia "wow, amazing.. seperti mendapat harta karun" katanya.
Setelah tanaman kacang tanah terpanen semua, selanjutnya ia mengumpulkan kacang satu persatu, meniup perlahan tanah yang menempel dan memasukannya ke dalam ember. Di momen sederhana itu, saya melihat bagaimana alam bisa menjadi guru terbaik yang mengajarkan kesabaran, rasa syukur, dan penghargaan terhadap makanan yang kita santap setiap hari.
Setelah kacang tanah terkumpul dan ditimbang hasilnya, pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan kelengkapan data untuk memastikan semua pertanyaan terisi seperti lokasi lahan, luas petak, jenis tanaman, berat hasil, waktu panen dan lainnya. Si kecil pun memperhatikan setiap langkah, sesekali bertanya mengapa angka angka itu begitu penting, saya pun menjelaskan bahwa data ini akan digunakan untuk mengetahui berapa banyak hasil panen petani agar pemerintah bisa merencanakan pangan dengan baik. Ia pun mengangguk, meski sepenuhnya belum mengerti apa yang dimaksud.
Kami pun duduk di saung yang merupakan tempat peristirahatan petani, beristirahat sejenak dan mencuci tangan. Saya pun kembali memeriksa hasil pendataan ubinan tersebut dan sempat menanyakan apakah ada fenomena kenapa produktifitas kacang tanah kali ini lebih sedikit dari biasanya. Setelah itu, kami pun pamit dan kami pun membeli hasil panen tersebut kepada petani.
Sesampainya dirumah, si kecil langsung merebus kacang tanah tersebut dan memakan hasil kacang hasil galiannya sendiri dengan bangga. Ternyata lelah tadi siang itu terbayar dengan kenikmatan kacang tanah tersebut.
Hari ini saya belajar, bahwa dibalik angka statistik, ada kehidupan nyata yaitu petani yang bekerja keras, tanah yang setia memberi hasil dan anak kecil yang belajar tentang dunia dengan cara yang sederhana. Diantara tugas seorang petugas BPS dan tawa si kecil di sawah, tersimpan kenangan tentang kerja keras, tanggung jawab dan cinta yang tumbuh bersama aroma tanah dan kacang tanah yang baru digali.
_NR_