Sabtu, 24 Januari 2026

Antara Petugas BPS, Si Kecil dan Kacang Tanah...

  


   Siang tadi ketika jarum jam menunjuk angka sebelas ketika kami tiba di sawah. Matahari sudah tinggi, cahayanya jatuh tegak diatas hamparan tanah yang mulai mengering setelah pagi berlalu. Udara sudah mulai terasa panas, tetapi langkah kecil orang disamping saya tetap lincah penuh rasa ingin tahu. 

    Ya, saya ditemani si kecil akan melakukan pemeriksaan ubinan palawija komoditas kacang tanah. Saya tidak hanya menjalankan tugas sebagai petugas pemeriksa ubinan BPS, tetapi juga mengajaknya mengenal alam dan pekerjaan secara langsung. 

    Pemeriksaan pendataan ubinan merupakan tahapan penting dalam kegiatan statstik pertanian yang dilakukan oleh BPS. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa data hasil pengukuran produksi tanaman pangan yang dikumpulkan di lapangan benar-benar akurat, lengkap dan sesuai prosedur. 

    Sebelum memulai pemanenan petak ubinan, saya melakukan pengecekan ukuran petak ubinan apakah sudah sesuai standar dan alat penimbang sudah dilakukan dengan alat yang layak. Saya menunjukkan kepada si kecil tanaman kacang yang tumbuh rendah itu lalu mengajarinya menggali perlahan. Tangannya yang mungil mulai kotor oleh tanah, namum wajahnya berseri saat umbi kacang tanah muncul, ia tertawa bahagia "wow, amazing.. seperti mendapat harta karun" katanya. 

    Setelah tanaman kacang tanah terpanen semua, selanjutnya ia mengumpulkan kacang satu persatu, meniup perlahan tanah yang menempel dan memasukannya ke dalam ember. Di momen sederhana itu, saya melihat bagaimana alam bisa menjadi guru terbaik yang mengajarkan kesabaran, rasa syukur, dan penghargaan terhadap makanan yang kita santap setiap hari.

    Setelah kacang tanah terkumpul dan ditimbang hasilnya, pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan kelengkapan data untuk memastikan semua pertanyaan terisi seperti lokasi lahan, luas petak, jenis tanaman, berat hasil, waktu panen dan lainnya.  Si kecil pun memperhatikan setiap langkah, sesekali bertanya mengapa angka angka itu begitu penting, saya pun menjelaskan bahwa data ini akan digunakan untuk mengetahui berapa banyak hasil panen petani agar pemerintah bisa merencanakan pangan dengan baik. Ia pun mengangguk, meski sepenuhnya belum mengerti apa yang dimaksud.  

    Kami pun duduk di saung yang merupakan tempat peristirahatan petani, beristirahat sejenak dan mencuci tangan. Saya pun kembali memeriksa hasil pendataan ubinan tersebut dan sempat menanyakan apakah ada fenomena kenapa produktifitas kacang tanah kali ini lebih sedikit dari biasanya. Setelah itu, kami pun pamit dan kami pun membeli hasil panen tersebut kepada petani. 

    Sesampainya dirumah, si kecil langsung merebus kacang tanah tersebut dan memakan hasil kacang hasil galiannya sendiri dengan bangga. Ternyata lelah tadi siang itu terbayar dengan kenikmatan kacang tanah tersebut. 

    Hari ini saya belajar, bahwa dibalik angka statistik, ada kehidupan nyata yaitu petani yang bekerja keras, tanah yang setia memberi hasil dan anak kecil yang belajar tentang dunia dengan cara yang sederhana.  Diantara tugas seorang petugas BPS dan tawa si kecil di sawah, tersimpan kenangan tentang kerja keras, tanggung jawab dan cinta yang tumbuh bersama aroma tanah dan kacang tanah yang baru digali.

_NR_

Minggu, 22 September 2013

Selasa, 09 Oktober 2012

Doa Memohon Kesembuhan

Setiap orang sakit pasti tidak menginginkan larut dalam deraan rasa sakit yang menimpanya, ia pasti menginginkan dirinya segera sembuh. Maka, dalam rangkan menggapai kesembuhan, setiap orang sakit dituntuk untuk banyak berdoa memohon kesembuhan kepada Allah SWT.


Utsman bin Abul Ash, pernah menderita suatu penyakit yang sangat mengganggunya. Maka diapun mendatangi Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw mengetahui sahabatnya itu sedang sakit, beliupun mengajarinya doa memohon kesembuhan. Beliau bersabda kepadanya, “Letakkanlah tangan kananmu di atas anggota badan yang sakit lalu ucapkanlah:

بِسْمِ اللَّهِ أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

BISMILLAHI A'UUDZU BI 'IZZATILLAH WA QUDRATIHI MIN SYARRI MAA AJIDU WA UHAADZIRU (Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku rasakan dan aku hindari), sebanyak tujuh kali (7X)."

Apa yang terjadi kemudian? Alhamdulillah, dengan izin dan kebesaran-Nya, orang tersebut pun sembuh dari penyakitnya. Utsman berkata, “Saya mengucapkan do'a tersebut, sehingga (dengan itu) Allah menyembuhkanku.” (HR. Ibnu Majah). ***

Share dar milis [syiar-islam] dikirim oleh M.Yusuf Shandy, Lc (0813.1344.3456)

Rabu, 23 Maret 2011

Adaptasi Di Tempat Baru

Penulis : AN. Ubaedy*

Begitu kita mendapatkan pekerjaan baru, tak berarti the game is over. Hidup ini isinya adalah serangkaian tantangan. Soal kita memahami tantangan itu sebagai hambatan atau jembatan, itu terserah kita memilihnya.

Tantangan baru yang sudah menunggu adalah bagaimana kita beradaptasi. Gagal beradaptasi akibatnya bisa fatal. Mungkin kita akan merasa dikalahkan atau kita menjadi tertekan. Pasti dua-duanya tidak enak dirasakan. Agar ini tidak terjadi, kita perlu menyiapkan diri.

Bedakan antara mengikuti, ikut-ikutan, dan menyesuaikan. Adaptasi adalah menyesuaikan. Kita tetap menjadi siapa diri kita, dengan nilai-nilai yang kita anut, dengan tugas yang harus kita kerjakan, dan dengan tujuan yang ingin kita capai. Tapi dalam perilaku, kita menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Tujuannya adalah menjadi pribadi yang seimbang antara sebagai "personal" dan "sosial". Jangan terlalu personal di kantor, sebab pasti akan tabrakan. Tapi, jangan juga terlalu sosial, sebab pasti akan menyesal.

Beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk memperlancar proses adaptasi itu antara lain:

1. Menanyakan dan memahami job description lebih dulu dengan berbagai konteksnya seoptimal mungkin. Ini akan menjadi patokan kita. Jika belum ada, kita perlu menanyakan ke orang dalam yang sudah menduduki posisi itu atau tanya ke orang lain di luar sana sebagai masukan.
2. Gunakan catatan, terutama mencatat instruksi atau pengarahan dari orang yang berwenang.
3. Harus ramah, sopan, dan menjaga penampilan yang tidak mengundang tanda tanya orang-orang yang baru kita kenal. Sesuaikan dengan lingkungan.
4. Menghindari banyak ngomong soal diri sendiri, akan lebih bagus kalau kita bisa proporsional dalam mendengarkan dan bertanya.
5. Berusahalah untuk datang lebih cepat dan pulang lebih lambat, sebagai bentuk nyata dari kemauan belajar.
6. Jika di kantor baru itu ada “office politic” yang kuat, perlu ada usaha untuk menjaga jarak yang aman. Jangan sampai langsung terlibat atau masa bodoh.

Dalam prakteknya, pasti ada dinamika yang tidak mulus. Menurut standar yang umum, kesempurnaan adapatasi itu dicapai setelah 1 tahun masa kerja.

Karena itu, yang lebih penting di sini adalah memprogram diri untuk menjadi lebih tahan banting terhadap berbagai dinamika di kantor. Hak kita memang untuk lanjut atau berhenti.

Tapi, jangan sampai kita berhenti karena kita lemah atau kurang melatih diri untuk tahan banting. Sebab, nanti akan terulang lagi dan terulang lagi hingga kita capek sendiri. Semoga bermanfaat.



* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor
dikutip dr https://www.sahabatnestle.co.id/ibubekerja_detail.aspx?id=2484

Senin, 14 Februari 2011

telur penyet

Bahan:
4 btr telur, rebus, kupas
1 ikat daun kemangi
3 iris ketimun
½ bh tomat, potong-potong

Bahan Sambal (Goreng):
6 bh cabai merah
3 bh cabai rawit
3 bh kemiri
4 bh bawang merah
1 siung bawang putih
50 gr kacang tanah, goreng
1 sdt garam
½ sdt gula pasir

Pelengkap:
Lalapan (daun kemangi, mentimun, tomat)

Cara Membuat:
1. Buat sambal penyet: ulek semua bahan sambal penyet yang sudah digoreng hingga halus.
2. Tambahkan telur rebus, tekan di atas sambal hingga pecah.
3. Hidangkan dengan lalapan daun kemangi, mentimun, dan irisan tomat.

tempe penyet

Hidangan ini sederhana sekali, tapi buat penggemar makanan pedas boleh juga dicoba. Bahan yang diperlukan cukup sederhana, membuatnya juga mudah, tidak membutuhkan banyak waktu.
Gizinya dimana? aku kurang tahu...hehe...
Kalau sekiranya kurang pedas, tambahin cabenya saja. Pasti mantap sekali....

Bahan:
  • 150 gram tempe, goreng
  • 2 buah cabai merah besar
  • 8 buah cabai rawit merah
  • 2 sdt terasi matang
  • garam secukupnya
  • 1 buah tomat mengkal, iris
  • 1 sdt air jeruk limau
  • daun kemangi secukupnya

1. Gunakan cobek dan ulekan, ulek kasar cabai merah besar, cabai rawit, terasi, dan garam. Tambahkan air jeruk limau dan irisan tomat mengkal, aduk rata.
2. Penyet tempe diatasnya hingga pipih.
3. Sajikan dengan daun kemangi.

Selamat mencoba!

spagheti kornet

bahan :
100 gram pasta spagheti la fonte
3 sendok makan saus spagheti del monte
2 sendok makan kornet sapi

caranya
rebus pasta sampai matang, tiriskan
selanjutnya masak sausnya, caranya panaskan wajan kasi minyak sedikit aja, masukan kornet, terus masukan sausnya, aduk aduk.. angkat deh
sajikan pasta tadi dengan sausnya.. mantapppp